Gerakan Sadar Sehat Panti Asuhan Dharma Jati II

Tanggal 27 Desember 2015 Komunitas Indonesia Sadar Sehat mengadakan penyuluhan Pola Hidup Bersih dan Sehat di Panti Asuhan Dharma Jadi II

Panti Asuhan Dharma Jadi II

Sekitar 20 tahun lalu Wayan Nika memiliki cita-cita mengentaskan anak-anak yatim piatu ataupun dari keluarga tidak mampu. Bermodal uang yang dia kumpulkan dari gaji sebagai seorang guru dan penghasilan sebagai fotografer di beberapa hotel berbintang di Bali, Wayan Nika memulai pengabdian tulusnya.

Uang tabungan itu akhirnya dia belikan sebidang tanah seluas sekitar satu hektar di daerah Klungkung pada tahun 1973. Saat itu Wayan Nika masih sekolah di sebuah sekolah menengah ekonomi atas di Buleleng. Bangunan baru mulai didirikan tiga tahun kemudian, saat Wayan Nika masih menempuh pendidikan di Institut Hindu Dharma. Lulus sarjana muda. Wayan Nika diangkat menjadi pegawai negeri sipil tahun 1978 dan mengabdi sebagai guru.

Tak mudah mendirikan panti asuhan dengan modal sendiri. Namun, dengan ketekunan dan ketulusan, pada 15 Oktober 1985 Panti Asuhan Hindu Dharma Jati yang ada di Klungkung mulai beroperasi. Arealnya sekarang bahkan sudah bertambah menjadi dua hektar. Panti asuhan ini pun disebut sebagai Panti Asuhan Hindu Dharma Jati I.

Buka di Denpasar

Panti asuhan yang menampung anak-anak tanpa orangtua ataupun putus sekolah ini berkembang seiring niat dan ketulusan Wayan Nika untuk mengentaskan mereka dari kemiskinan dan kebodohan. Tahun 1987 suami dari Ni Nyoman Suwasti (47) itu membuka lagi panti asuhan dengan nama yang sama di bilangan Denpasar. Panti asuhan yang saat ini menampung 226 anak telantar itu disebut sebagai Panti Asuhan Hindu Dharma Jati II.

Di panti asuhan dengan bangunan gaya Bali itu anak-anak dididik tak hanya untuk keterampilan, tetapi juga pendidikan formal. Siang hari diajari menjahit, membuat bakso, berlatih atletik, dan juga seni tari. Petang harinya mereka dididik formal oleh guru-guru pengajar bantuan. Anak asuh yang sudah dewasa diberi tugas mengasuh anak panti asuhan yang masih kecil (balita).

“Tenaga pengajar diberi gaji oleh Dinas Pendidikan. Ada yang penuh mengajar mulai pukul 13.00 hingga 15.00 dan dilanjutkan pukul 19.00 hingga 21.00, tetapi ada juga yang mengajar tidak penuh,” kata Wayan Nika.

Wayan Nika yang berlatar belakang sebagai guru, dan lulusan program magister untuk bidang Kajian Budaya di Universitas Udayana, itu mengaku lebih mengedepankan pendidikan keterampilan dan perilaku kepada anak asuhnya. Namun, tentu saja tanpa meninggalkan pendidikan berbasis kurikulum, yang saat ini diberikan melalui pendidikan luar sekolah dengan model Kejar (Kelompok Belajar) Paket A, Kejar Paket B, dan Kejar Paket C.

Seiring dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidup anak-anak asuhnya, bantuan datang ke panti asuhan ini. Selain bantuan tetap dari Yayasan Darmais Rp 2,7 juta setiap bulannya dan dari bantuan tunai langsung kompensasi BBM sebesar lebih kurang Rp 6 juta per bulan, panti asuhan ini juga mendapat bantuan dari masyarakat, baik berupa uang tunai maupun bahan kebutuhan makan. Bahkan, bantuan tenaga pelatih keterampilan juga datang tanpa diminta.

Tanpa pamrih

Pengabdian Wayan Nika membuahkan hasil. Sejak panti asuhan dioperasikan tahun 1985, sudah 1.400-an orang berhasil dididik dan keluar dari panti asuhan. Kebanyakan mereka bekerja di berbagai hotel di Bali. Sebagian dari mereka yang telah berhasil tak jarang membawa sumbangan semampu mereka.

Komunitas Indonesia Sadar Sehat berdiri sejak 17 Agustus 2015, yang merupakan kumpulan anak muda yang memiliki kepedulian dan secara sukarela melakukan pelayanan, khususnya di bidang promosi kesehatan (pencegahan dan pengendalian) penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, pendidikan pola hidup sehat, penanaman nilai-nilai kemanusiaan dan kegiatan pelestarian lingkungan hidup.