Saya bukan anak yang sejak lahir memiliki IQ superior. Saya bukan pula anak yang sejak TK les privat, belajar matematika seharian sedari balita, atau memiliki hobi khusus sejak kanak-kanak. Tidak! Sejak kecil, bahkan selama lebih dari 12 tahun saya harus long distance relationship dengan bapak tercinta. Bapak saya seorang dokter hewan karaktina pertanian yang sejak awal diterima sebagai PNS ditempatkan di Lombok, sempat pula di sulawesi, maluku utara, ternate, sempat pindah ke Bali, tapi beberapa tahun kemudian dimutasi lagi ke daerah luar. Bapak adalah sosok yang selalu memberikan saya motivasi, ia adalah akar semangat saya. Sebelum bapak saya pindah ke Bali, saya hanya tinggal di Karangasem bersama ibu, adik, dan nenek saya. Saya benar-benar menjalani masa kanak-kanak tanpa dekapan kasih dari seorang ayah di setiap harinya. Meskipun kami LDR, bapak saya rutin menelepon kami, berkomunikasi, bahkan sering kali mengirimkan saya hadiah.

Ketika saya berumur 4 tahun, saya harus sekolah TK. Seperti anak pada umumnya, saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk bersenang-senang, bermain-main, bahkan saya sangat enggan balajar saat itu. Untungnya, saya memiliki seorang nenek yang juga merangkap berprofesi sebagai ibu saya yang kedua. Beliau adalah sosok yang selalu menyayangi saya dengan kehangatan. Terlebih lagi, bapak saya yang pulang ke rumah hanya 6-12 bulan sekali, tentu membuat saya haus akan kasih sayang. Di tambah lagi, ibu saya yang seorang guru sangat sibuk dengan aktivitasnya di sekolah tempat ia mengajar.

Setelah tamat TK, saya didaftarkan untuk bersekolah di SDN 1 Karangasem. Saat itu, saya belum bisa membaca, menulis, dan bahkan saya sangat pemalu. Di hari pertama sekolah saya sangat senang. Mengapa? Karena bapak saya pulang ke Bali untuk menikmati cuti liburan. Betapa bahagianya saya ketika di hari pertama menginjakkan kaki di sekolah dasar, ada bapak saya yang menemani setiap langkah saya. Pernah guru SD saya memberikan soal di mana siswanya diwajibkan untuk menulis kalimat yang dibacakan. Saya sungguh kebingungan. Betapa tidak, saya selalu menikmati hari-hari saya dengan senyuman bahagia, canda tawa, bermain bersama keluarga. Akhirnya, saya miminta bantuan kepada teman saya untuk menuliskannya. Pernah pula saya mendapat nilai 0 untuk pelajaran matematika di kelas 1 SD. Saya tertekan dan menangis di kantin sekolah. Saya khawatir ibu saya akan memarahi saya, terlebih ibu saya adalah seorang guru. Nilai-nilai saya yang pasang surut membuat saya sempat bosan masuk sekolah dasar. Hingga di pengumuman kenaikan kelas, saya berhasil masuk 12 besar siswi terbaik. Saya sangat bangga saat itu. Nilai saya yang tergolong pas-pasan, tapi bisa masuk 12 besar. Yeah! Itu awal yang baik.

Awalnya saya pikir, menjadi peringkat 12 besar akan membuat predikat saya semakin meningkat di kelas 2 SD. Tapi, itu hanyalah ilusi saya. Di kelas 2, saya justru tidak mendapatkan juara. Saat kelas 3 SD, bapak saya masih bekerja di luar Bali dan masa itu ia pernah berjanji akan memberikan saya HP jika saya masuk 20 besar di kelas. Ternyata benar… saya menjadi peringkat 7 saat kelas 3 SD. Saya menyadari, saat itu saya tidak pernah belajar dengan rutin dan disiplin. Nenek saya sering kali mengajari bahasa Inggris. Tapi untuk pelajaran yang lain, saya belum memiliki kemauan untuk menggelutinya. Bukan tanpa alasan, mungkin karena bertahun-tahun saya LDR dengan bapak saya sehingga motivasi saya untuk belajar belum muncul. Setahun kemudian, ibu saya mulai mengarahkan saya untuk ikut kursus menari. Awalnya saya menolak karena saya sangat pemalu waktu itu. Namun, tuntutan pertemanan mengharuskan saya untuk kursus menari. Pada waktu kelas 4 SD, saya sempat bermusuhan dengan teman dekat saya. Jadi, untuk memperbaiki hubungan pertemanan kami, ia menawarkan saya untuk menemaninya kursus menari. Tanpa pikir panjang, saya mengajak ibu saya ke sanggar tari. Awalnya memang malu, tapi lama kelamaan saya jadi mau dan ketagihan dalam menari. Entahlah, itu suatu kebetulan saja atau takdir Tuhan. Berawal dari rasa terpaksa agar bisa memperbaiki hubungan pertemanan, kini saya menjadi jatuh cinta dengan dunia tari. Beberapa kali saya mengikuti lomba tari dan berhasil meraih juara 1.

Tak hanya itu, di kelas 4 SD saya mulai tertarik dengan pelajaran menghitung, yakni matematika. Saya mulai cepat dan tanggap dalam berhitung. Melihat potensi ini, ibu saya mecarikan saya guru les. Ibu saya adalah wonder mom, selama ayah saya bekerja di luar Bali, ibu saya lah yang setia mengantarkan saya les, kursus, dan sebagainya. Sepertinya saat kelas 4 SD itulah saya mulai memiliki ambisi dan semangat yang tinggi untuk berprestasi, awalnya saya meraih ranking 3, kemudian naik menjadi rangking 2. Hingga tibalah di kelas 5 SD. Saya menjadi rajin belajar, mulai berani, tak pernah takut untuk mencoba, berusaha, di setiap saat saya membaca buku, bahkan beberapa orang di rumah sempat heran dengan saya yang sangat jarang ke luar kamar.  Meskipun saya muali berani dan percaya diri, di dalam lubuk hati saya masih menyimpan perasaan bimbang dengan kemampuan diri saya, suatu saat guru saya menawari untuk lomba matematika. Namun, dengan lugas saya langsung menolak dan mengatakan “saya tidak bisa.”

Awal saya meniti karir di sekolah adalah saat kelas 5 SD saya ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam Lomba Siswa Berprestasi SD. Sungguh perjalanan lomba yang begitu panjang. Harus tes tulis, semifinal, final cerdas cermat, melaju ke tingkat kabupaten, dan provinsi. Sejak saat itulah, keluarga saya mulai melihat potensi kecil pada diri saya. Orang tua saya mulai mencarikan guru les matematika, bahasa Inggris, dan mengikuti kursus bimbingan belajar (bimbel). Setelah tamat SD, saya melanjutkan sekolah di SMP Negeri 2 Amlapura, tempat ibu saya mengajar. Karena saya bersekolah di tempat ibu saya mengajar, saya menjadi lebih termotivasi untuk belajar. Terkadang saya tertekan, takut membuat ibu saya malu. Kadang pula saya tidak percaya diri dengan kemampuan saya. Di SMP, saya mengikuti esktra Tari karena sejak kecil saya sudah menggeluti budang seni tradisional yang satu ini. Suatu ketika, guru saya memberikan ulangan harian bahasa Bali. Saya tidak terlalu fasih di pelajar yang satu ini. Saya mengerjakan soal ulangan dengan hati-hati, menjawab dengan perlahan, dan sesekali saya bingung harus menjawab apa. Setelah waktu berakhir, saya mengumpulkan kertas ulangan dan fortunatly, saya mendapat nilai sempurna, 100. Dari sana guru saya memandang bahwa saya memiliki potensi untuk mengikuti KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) karena menurut beliau, saya merupakan pribadi yang perlahan, namun pasti.

Saya mengikuti saran guru saya untuk bergabung di ekstra KIR. Lomba pertama datang. Saya mengikuti lomba esai agama Hindu dan dengan penuh keberanian saya mengirimkan 2 esai saya. Namun, saya gagal. Tak satu pun dari esai saya keluar sebagai juara. Saya menangis. Tak tahu harus berbuat apa dan mengadu pada siapa. Orang tua dan guru saya  terus memberikan dukungan moral kepada saya. ‘Kalah menang itu hal biasa, yang terpenting kita mau berusaha.’ Beberapa bulan kemudian, muncul lomba KIR yang kedua, yakni Lomba Penelitiaan Ilmiah Remaha tingkat Nasional. Saya berupaya dengan sangat keras untuk membuat karya tulis dan mengirimnya sesuai deadline. Berharap karya saya bisa masuk nominasi. Namun, eskpektasi berbanding terbalik dengan realita. Saya tidak mendapatkan juara. Terkadang, sangat berat untuk menerima hasil yang berbanding terbalik dengan keinginan kita. Tapi, saya bisa apa? Hanya terus berusaha dan berdoa adalah kunci meraih asa dan cita-cita.

Awal-awalnya terasa berat. Berusaha sudah, bergadang sudah, tapi tetap saja hasilnya zonk. Hingga di akhir tahun, Pembina KIR di SMP Negeri 2 Amlapura menginfokan bahwa ada lomba esai humaniora. “Lomba esai agama yang sangat dekat dengan diri kita saja saya gagal, bagaimana mungkin menulis esai humaniora yang saya tak tahu itu apa?” itu adalah kalimat yang pertama kali terlintas di benak saya. Pembina KIR, Ibu Sri Wahyuni, sempat memberikan saya seuntai judul untuk perlombaan esai. Namun, saya tipe orang yang ingin meraih sesuatu dengan keringat saya sendiri. Saya melewati hari dengan semburat senyum, walau terkadang kegelapan senja mulai datang. Sesulit dan susah apa pun kondisinya selalu saya lewati dengan bahagia. Saya memutar-mutar otak agar mendapatkan ide yang tepat untuk esai humaniora saya. Uniknya, ketika saya berjalan kaki menuju ke rumah, saya teringat dengan pelajaran agama, yakni dharma tula. Dari sanalah muncul pemikiran untuk menggunakan dharma tula sebagai elemen judul esai saya. Saya tidak menyia-nyiakan hal itu. Setelah tiba di rumah, saya membuka laptop dan menyusun esai tanpa kenal waktu, hingga larut malam. Tak hanya itu, saya harus bolak-balik supermarket untuk membeli kertas HVS, lakban, dan kertas jilid. Untungnya, ibu saya tercinta terus memberikan bantuan dan memotivasi saya. Hingga tiba saatnya saya harus mempasrahkan hasil tulisan esai saya dan mengirimkannya ke Universitas Udayana. Let it go. Saya berusaya melepaskan semua beban pikiran saya, lomba adalah tolok ukur potensi sesorang. Jika saya berjodoh dengan dunia tulis menulis, maka akan saya asah dan kembangkan. jika tidak, saya harus terus berbenah dan jangan larut dalam masalah. Saya jalani hari dengan apa adanya, tanpa bimbang, apalagi resah gelisah. Terlebih lagi, saya adalah wakil ketua umum 2 OSIS SMP Negeri 2 Amlapura sehingga saya harus mempersiapkan Masa Orientasi Siswa (MOS). Organisasi yang satu ini juga turut memberikan warna-warni pelangi di masa putih biru saya. Manajamen waktu adalah kuncinya. Ketika kita mampu membagi waktu untuk belajar dan berorganisasi, maka itu adalah kemenangan yang sejati.

Suatu siang dengan matahari yang terik, saya berjalan menyusuri heningnya trotoar. Sesekali saya melirik HP yang pada saat itu HP saya bermerk G*Star. Seperti mendapat kambing hitam, panitia lomba esai menghubungi dan menginfokan bahwa saya meraih juara 3 Lomba Esai Humaniora. Sungguh hadiah di siang hari yang luar biasa. Orang pertama yang saya kabari adalah ibu saya. Beliau yang agak tegas, tapi sesungguhnya lembut di hati. Beliau yang terkadang membuat kesal, tapi sejatinya beliaulah yang selalu ada di sisi saya ketika saya terjatuh dan gagal.

Sejak saya meraih juara 3 esai, saya semakin bernafsu unutk menulis. Kalau kebanyakan pakar mengatakan bahwa ‘sesorang menulis karena ia kesulitan untuk berbicara.’ Sepertinya pernyataan tersebut cukup akurat. Awalnya saya adalah gadis yang pemalu, sangat sedikit berbicara. Saya meluapkan ide saya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Namun, suatu ketika, saya dan 4 orang teman saya terpilih menjadi satu tim dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah. Lomba ini bersifat projek sehingga harus melakukan penelitian dan membutuhkan jangka waktu yang lama, kurang lebih 2 bulan. Walaupun saat itu saya masih junior, tapi saya tetap berusaha. Saya banyak mengintip ilmu dari kakak kelas saya yang sudah banyak jam terbangnya di bidang karya tulis. Di sanalah saya merasa sadar bahwa lomba adalah ‘proses’ pembelajaran, bukan hanya sekadar ‘hasil’ dari sebuah pembelajaran.

 Saya sering lomba, baik lomba bertim ataupun individu, umumnya saya hanya mendapat juara 2,3, ataupun 10 besar. Saya sangat mengidam-idamkan lomba inividu dan mendapat juara 1 di Provinsi Bali. Berkaitan dengan misi itu, saya terpilih untuk mewakili sekolah dalam lomba siswa berprestasi. Saya sudah mengikuti lomba yang sama sejak SD, namun saya gagal di tingkat provinsi. Hingga di lomba siswa berprestasi tingkat SMP ini saya memiliki ambisi yang tinggi untuk menjadi nominasi juara di kancah provinsi. Persipan saya lakukan dengan sepenuh hati, mengerahkan otak, dan tenaga. Setiap hari saya harus bangun pukul 5 pagi untuk belajar karena lomba ini menuntut pesertanya untuk dapat menguasai 6 mata pelajaran, yakni IPA, IPA, PKN, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Mulai dari seleksi tingkat kecamatan, saya tak pernah lelah untuk meminta doa restu dari ibu dan ayah saya. Terlebih lagi, saat itu ayah saya sudah pindah dan bekerja di Karangasem, Bali. Hal ini membuat saya semakin bersemangat dalam berkompetisi. Setelah menang di tingkat kecamatan, saya menjadi duta untuk mewakili ke tingkat kabupaten. Namun, terdapat kejadian pahit yang membuat hati saya menjadi broken. Di pagi hari, guru saya menginfokan bahwa saya tidak lolos seleksi Olimpiade Sains Provinsi (OSP) bidang fisika. Jiwa saya seperti ditusuk pisau berkatat, sakit, tapi tak ada yang tahu seberapa dalam luka di hati saya saat itu. Air mata menetes terus di pelupuk pipi saya. Setiap memegang buku saya selalu menangis dan sangat terpukul.

Sebagai seorang siswa, saya harus bangkit. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 8 SMP dan saya masih memiliki banyak waktu untuk dapat meraih prestasi lain. Masih ada masa SMA dan kuliah yang menanti. Dukungan dan doa dari orang tua, serta dorongan dari guru membangkitkan semangat saya. Saya berusaha mengambil sisi positif dari kegagalan tersebut dan saya yakin bahwa lomba siswa berprestasi bisa menjadi rejeki yang mengobati kepiluan hati saya karena tidak lolos OSP fisika.

Saya memiliki waktu sebulan untuk mempersiapkan lomba siswa berprestasi tingkat provinsi. Dalam jangka waktu 30 hari, bukanlah waktu yang lama. Saya harus mempersiapkan 6 mata pelajaran, latihan nari sebagai bentuk keterampilan, menyiapkan tes komputer, senam, bahkan upacara bendera turut menjadi kriteria penilaian. Saya mengerahkan seluruh jiwa dan raga. Sempat takut dengan hasilnya. Sempat pula saya merasa pesimis, apakah saya bisa atau tidak, apakah saya akan menjadi juara atau tidak. Walaupun benak saya dihantui oleh bayang-bayang ketakutan, tetapi di lubuk hati saya masih tertanam prinsip bahwa ‘tak kan ada hasil yang mengkhianati usaha.’ Ayah saya pun selalu mengingatkan saya bahwa ‘kalah menang hal biasa, yang terpenting berusaha.’

Satu minggu menjelang lomba, saya sakit flu dan demam. Saya tidak bisa tidur dengan nyenyak, resah, dan gelisah. Hingga tiba di hari H lomba, saya diharuskan untuk kumpul di dinas pendidikan pukul 5. But unfortunatly, alarm yang sudah di-setting tidak berdering. Ibu saya mulai panik dan membangunkan saya. “Sungguh cobaan,” pikir saya. Saya berusaha tenang, walaupun saya akan terlambat, tapi saya yakin bahwa ketenangan menggambar kesuksesan seseorang. Meski sudah telat 30 menit, saya tetap sembahyang sebelum berangkat dan meminta doa restu orang tua. Setiba di sana, saya disindir oleh kakak-kakak SMA. Seolah-seolah, penyebab keterlambatan kontingen Karangasem adalah saya. Meskipun begitu, saya tetap percaya dengan datangnya karma phala. Saya hanya terdiam dan berusaha untuk tenang dan tenang.

Mengikuti suatu kompetisi sendiri, tanpa ayah ibu menamani adalah hal yang cukup sulit. Seperti itulah saya. Hari pertama adalah tes psikologi. Saya menjawab apa adanya, sesuai dengan nurani saya. Di hari pertama masih ada kesempatan bernapas lega. Namun, hari kedua adalah penilaian senam, sekaligus tes 6 mata pelajaran. Bayangkan, dari pagi hingga pukul 6 sore, saya harus bertatapan langsung dengan 6 x 40 soal.

Setiap kabupaten mengirimkan 1 wakil terbaiknya. Hampir di setiap tes, saya selalu mengumpulkan lembar jawaban paling terakhir. Tapi, tak pernah sedikit pun terlintas perasaan malu karena saya yakin bahwa ‘kita menjadi apa kita pikirkan.’

Tiba di hari ketiga, yakni tes keterampilan. Saya menarikan Tari Puspahredaya yang merupakan tari maskot Kabupaten Karangasem. Saya sangat bersyukur karena sedari kecil saya ikut kursus menari sanggar. Dewan juri tercengang melihat gemulai tubuh saya yang menarikan tari tersebut dan hanya saya yang mendapat tepuk tangaan langsung dari sang juri. Walaupun dari segi menari cukup meyakinkan, tapi saya masih ragu denagn hasil tes yang lain. Di perjalanan pulang ke Karangasem saya hanya terdiam. Meratapi hasil yang akan datang.

Satu bulan berlalu. Ketika itu, saya menjenguk sanak saudara saya yang dirawat di rumah sakit. Saat menjenguk saya tidak membawa HP. Tiba di rumah, saya melihat HP saya yang berdering dan terdapat kiriman SMS dari Bu Sri Wahyuni yang hingga kini saya masih ingat bunyi pesannya. “Iin cantik, selamat menjadi juara 1 sisber tk. Provinsi.” Membaca pesan itu saya nyaris tak berkedip. Tertegun dan diam. Tanpa memikirkan apapun, saya membuka laptop dan mencari pengumuman lomba siswa berprestasi SMP di internet. Alhasil, saya benar menjadi juara 1. Saya seperti mendapat kambing hitam di malam hari. Saya berteriak kesenangan. Orang tuas saya tersenyum bahagia. Itu adalah kedamaian bagi saya.

Perjalanan di masa putih biru saya lalui dengan semestinya. Tibalah saatnya saya mengikuti ujian nasional (UN). Saya sangat yakin dengan persiapan saya. Tapi apa? Nilai UN Bahasa Indonesia saya hanya mendapat angka 8,8. Saya terpukul. Padahal nilai Matematika saya 100, IPA 9,75, dan Bahasa Inggris 98. Saya menjadi bahan pembicaraan orang. Juara 1 Siswa Berprestasi Bali, tetapi UN di sekolah perngkat 5. Walaupun kecewa, saya percaya bahwa tuhan akan memberkan rejeki lain untuk saya. So, keep spirit.

Memasuki masa SMA dengan luka UN yang masih mengena. Saya berusaha untuk membuka lembaran baru di dunia putih abu. Yakin dengan kemampuan diri adalah kuncinya. Mengembangkan potensi yang kita miliki adalah salah satu caranya. Saya mencintai dunia KIR. Beberapa lomba saya ikuti saat baru masuk di kelas X SMA Negeri 2 Amlapura. Menulis itu bukan paksaan. Ketika saya memiliki mood untuk menulis, barulah saya menulis. Kadang ide tulisan itu datang dari mana saja, di mana saja, dan kapan saja. Dengan prinsip iitulah saya menjadi lebih tenang ketika menguji tulisan saya dengan mengirimkannya pada suatu kompetisi. Saat itu, saya memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi esai tingkat nasional di Univeristas Lambung Mangkurat, Banjar Baru. Alhasil, saya meraih juara 2. Sempat pula saya menulis esai untuk lomba di Pekan Ilmiah SMAN 1 Taman, Sidoarjo dan juga meraih juara 2. Menulis adalah hobi saya. Walaupun saya bercita-cita sebagai seorang dokter, namun asmara saya di bidang tulis menulis tetap ada.

Tak hanya lomba di bidang KIR, saya juga mengadu diri saya dengan mengikuti beberapa kompetisi akademik lainnya. Tepat di tanggal 14 Juli 2016, 6 besar umum SMA Negeri 2 Amlapura dikirim untuk mewwakili Karangasem dalam Lomba Ki Hajar tingkat Provinsi Bali. Awalnya memang terasa seperti beban. Apalagi, saya adalah juara umum 1. Sekolah tentunya berharap besar pada saya. Seperti prinsip saya di awal, tenang dan tenang. Saya tetap berusaha, belajar sekuat tenaga, dan menyiapkan segala suatunya. Kalau SMP saya diberikan waktu 1 bulan, tapi untuk Lomba Ki Hajar ini saya hanya diberikan waktu 2 hari. Saya menyusun jadwal belajar agar saya dapat mempersiapkan semua materi dengan baik. “Kalah menang hal biasa, yang terpenting berusaha,” untaian kata yang selalu mengalir di nadi saya. Orang tua seperti bahan bakar bagi anaknya. Sesungguhnya, motivasi dari merekalah yang membuat seorang anak menjadi semangat. Itulah yang saya rasakan. Ketika saya meraih juara 1 Lomba Ki Hajar, mereka adalah orang pertama yang saya kabari.

“So, the last but not least, if tou can dream it, than you will gei it.”

SMA 2 Amlapura
SMA 2 Amlapura
SMA 2 Amlapura